Berita

4 Cara Meneladani Rasulullah dalam Kehidupan Sehari-Hari, Ustadz Riffandi

Tausiyah Jelang Berbuka Puasa oleh Ustadz Riffandi untuk Santri MBS Tanggul


Di sore hari yang penuh keberkahan menjelang berbuka puasa, Ustadz Riffandi membuka tausiyahnya dengan pertanyaan yang langsung menggelitik: “Kalian punya idola nggak?” Messi, atlet, artis, YouTuber. Tapi satu pertanyaan yang lebih penting: sudahkah kita menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai idol sejati yang benar-benar kita teladani, bukan sekadar dikagumi dari jauh?


Rasulullah, Manusia Terbaik Sepanjang Masa

Allah sendiri memuji Rasulullah dalam QS. Al-Qalam ayat 4 bahwa beliau berbudi pekerti yang agung. Dan ketika sahabat Anas bin Malik ditanya bagaimana akhlak Nabi, jawabannya singkat namun dalam: “Akhlaknya adalah Al-Qur’an.” Rasulullah tidak hanya menyampaikan Al-Qur’an — beliau menghidupkannya dalam setiap tarikan napas.


4 Cara Meneladani Rasulullah dalam Kehidupan Sehari-hari

Allah berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 31: ikutilah Rasulullah, maka Allah akan mencintai kita. Inilah deal terbaik sepanjang sejarah. Dan mengikutinya bukan hanya soal penampilan, tapi cara berpikir, bersikap, dan menjalani hidup.

Pertama, rajin belajar. Wahyu pertama adalah “Iqra!” — perintah membaca. Setiap kali santri duduk di kelas, membuka kitab, atau menghafal Al-Qur’an, mereka sedang menjalankan sunnah Nabi secara nyata.

Kedua, menjaga hubungan dengan Allah. Rasulullah shalat malam hingga kakinya bengkak. Ketika ditanya mengapa, beliau menjawab: “Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur?” Kita yang masih banyak dosa ini harusnya jauh lebih semangat.

Ketiga, mulia dalam pergaulan. Rasulullah tidak pernah memaki atau merendahkan siapapun. Bahkan Abu Jahal mengakui kejujurannya. Masih suka bully teman? Sindir di grup WhatsApp? Itu jauh dari sunnah Nabi.

Keempat, penuh syukur. Rasulullah pernah makan hanya roti dan garam berhari-hari — tanpa mengeluh. Allah berjanji dalam QS. Ibrahim ayat 7: semakin bersyukur, semakin bertambah nikmat. Sementara kita terkadang masih mengeluh soal lauk di pondok yang “itu-itu lagi.”


Pondok: Laboratorium Pengikut Rasulullah

Ustadz Riffandi mengingatkan bahwa para santri adalah orang-orang yang beruntung. Di luar sana, banyak anak seusia mereka menghabiskan waktu tanpa arah. Sementara santri setiap hari bangun subuh, shalat berjamaah, dan mengaji. “Pondok bukan penjara — pondok adalah laboratorium pembentukan karakter pengikut Rasulullah.”


Penutup: Cinta yang Dibuktikan

Seorang sahabat pernah berkata kepada Rasulullah: “Aku tidak punya banyak amal, tapi aku mencintaimu.” Rasulullah pun bersabda bahwa seseorang akan bersama orang yang dicintainya. Maka mulai malam ini, niatkan kembali: mondok bukan sekadar mencari ijazah, puasa bukan sekadar menahan lapar — kita sedang melatih diri menjadi pengikut sejati Rasulullah SAW, agar kelak dipertemukan dengan beliau di surga-Nya.

Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.


Ditulis berdasarkan tausiyah jelang berbuka puasa yang disampaikan oleh Ustadz Riffandi untuk Santri MBS Tanggul.


 

Leave a Reply