Latar: Peristiwa Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928
Hujan gerimis membasahi jalan-jalan Jakarta—atau masih bernama Batavia saat itu. Ratna, gadis berusia 17 tahun, melangkah tergesa di trotoar berbatu. Di tangannya tergenggam sebuah surat undangan rapat pemuda di gedung Katholieke Jongenlingen Bond, Lapangan Banteng.
“Ratna! Tunggu!” terdengar suara Budi, pemuda berkacamata tebal yang juga merupakan teman organisasinya di Jong Java.
“Kita harus cepat, Bud. Rapat dimulai jam tiga sore. Ini sudah hampir jam setengah tiga,” kata Ratna sambil terus melangkah.
Budi menyusul, napasnya terengah-engah. “Aku dengar, hari ini akan ada sesuatu yang bersejarah. Kata Mas Soegondo, semua organisasi kepemudaan akan bersatu.”
Mata Ratna berbinar. Sejak bergabung dengan Jong Java dua tahun lalu, ia bermimpi melihat pemuda-pemudi dari berbagai daerah bersatu. Terlalu lama mereka terpecah—Jong Java untuk Jawa, Jong Sumatranen Bond untuk Sumatra, Jong Celebes untuk Sulawesi, dan berbagai organisasi kedaerahan lainnya. Sementara itu, penjajah Belanda semakin kuat mencengkeram tanah air mereka.
Sesampainya di gedung, ruangan sudah dipenuhi puluhan pemuda-pemudi. Ratna mengenali beberapa wajah: Muhammad Yamin dari Sumatra yang sering berpidato penuh semangat, Amir Sjarifuddin yang cerdas, dan Wage Rudolf Soepratman yang membawa biola.
“Saudara-saudara sekalian,” suara tegas Soegondo Djojopoespito membuka rapat. “Kita berkumpul hari ini bukan sebagai orang Jawa, Sumatra, atau Sulawesi. Kita berkumpul sebagai pemuda Indonesia!”
Tepuk tangan riuh menggema. Ratna merasakan dadanya berdebar kencang. Inilah yang selama ini ia nantikan.
Muhammad Yamin naik ke podium. “Tanah air kita satu: Indonesia. Bangsa kita satu: Indonesia. Bahasa persatuan kita satu: Bahasa Indonesia!”
Kalimat itu diucapkan dengan lantang, penuh keyakinan. Ratna melihat beberapa pemuda menghapus air mata. Mereka semua paham, ini adalah momen bersejarah.
“Tapi Mas Yamin,” seorang pemuda dari belakang bersuara. “Bagaimana dengan bahasa daerah kita? Apakah akan hilang?”
Muhammad Yamin tersenyum. “Bahasa daerah adalah kekayaan kita. Tetapi untuk bersatu, kita perlu satu bahasa yang bisa menghubungkan kita semua. Bahasa Melayu—yang kita sebut Bahasa Indonesia—adalah jembatan itu.”
Diskusi berlanjut selama berjam-jam. Ratna mencatat setiap kata penting. Sebagai sekretaris muda Jong Java, ia tahu tulisannya akan menjadi dokumen berharga suatu hari nanti.
Menjelang sore, Wage Rudolf Soepratman berdiri sambil membawa biolanya. “Saudara-saudara, ijinkan saya memainkan sebuah lagu yang saya ciptakan. Saya beri judul ‘Indonesia Raya’.”
Ruangan hening. Kemudian, alunan biola mulai terdengar. Nada-nadanya megah, menggetarkan jiwa. Ratna merasakan bulir-bulir air mata mengalir di pipinya. Belum pernah ia mendengar musik yang begitu indah sekaligus menyentuh hati.
“Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku…” Wage mulai menyanyikan liriknya.
Seluruh hadirin berdiri. Beberapa ikut menyanyikan, meskipun baru pertama kali mendengar. Energi di ruangan itu luar biasa—seolah-olah api semangat kemerdekaan mulai menyala terang.
Setelah lagu selesai, Soegondo kembali ke podium. “Saudara-saudara, hari ini kita telah bersaksi. Kita bukan lagi pemuda yang terpecah. Mulai detik ini, kita adalah pemuda Indonesia!”
Tepuk tangan menggelegar. Ratna berpelukan dengan gadis-gadis dari organisasi lain. Mereka menangis bahagia. Budi menjabat tangan pemuda-pemuda dari berbagai daerah.
Di luar gedung, hujan sudah reda. Langit menampakkan semburat jingga. Ratna berjalan pulang dengan perasaan berbeda. Di tangannya, ia memegang catatannya dengan erat—catatan tentang Sumpah Pemuda yang kelak akan mengubah sejarah Indonesia.
“Ratna,” panggil Budi. “Menurutmu, apakah pemerintah kolonial akan marah dengan apa yang kita lakukan hari ini?”
Ratna menatap langit. “Mungkin. Tapi mereka tidak bisa membunuh semangat, Bud. Hari ini kita telah menyalakan pelita. Dan cahayanya akan terus menerangi jalan Indonesia menuju kemerdekaan.”
Malam itu, di rumah kecilnya, Ratna menulis dalam buku hariannya: 28 Oktober 1928. Hari ini aku menjadi saksi kelahiran Indonesia. Satu tanah air. Satu bangsa. Satu bahasa. Indonesia.
Ia tidak tahu bahwa tujuh belas tahun kemudian, Indonesia benar-benar merdeka. Dan sumpah yang diucapkan hari itu menjadi fondasi persatuan bangsa yang terus diperjuangkan hingga kini.
PERTANYAAN LITERAL
1. Siapa tokoh utama dalam cerpen ini?
2. Di mana dan kapan peristiwa dalam cerpen terjadi?
PERTANYAAN INTERPRETATIF
1. Apa makna dari kalimat “Hari ini kita telah menyalakan pelita”?
2. Mengapa Muhammad Yamin mengatakan bahasa daerah adalah kekayaan tetapi tetap perlu bahasa persatuan?
PERTANYAAN INTEGRATIF
1. Bagaimana peristiwa Sumpah Pemuda berhubungan dengan kondisi Indonesia saat itu?
2. Apa hubungan lagu “Indonesia Raya” dengan semangat Sumpah Pemuda?
PERTANYAAN KRITIS
1. Apakah keputusan para pemuda untuk menggunakan Bahasa Indonesia (Melayu) sebagai bahasa persatuan sudah tepat? Mengapa?
2. Bagaimana peran perempuan dalam pergerakan nasional berdasarkan cerpen ini?
PERTANYAAN KREATIF
1. Jika kamu adalah Ratna, apa yang akan kamu lakukan setelah menghadiri Kongres Pemuda II tersebut?




13 Comments
Akmal Pratama Ryo Angkasa
27/01/20261. Ratna
2. Di gedung Katholieke Jongenlingen Bond, Lapangan Banteng tanggal 28 Oktober 1928.
3. Hari ini kita telah menyalakan atau membangkitkan semangat juang
4.Bahasa daerah adalah kekayaan kita. Tetapi untuk bersatu, kita perlu satu bahasa yang bisa menghubungkan kita semua. Bahasa Melayu—yang kita sebut Bahasa Indonesia—adalah jembatan itu.”
5.Saat itu kondisi Indonesia sedang dalam terpecah belah dan di jajah oleh belanda
6.Karena dengan lagu Indonesia raya kita bersatu,berjuang demi kemerdekaan indonesia
7.Karna bahasan persatuan itu penting demi kesatuan negara,dan bahasa daerah merupakan bahasa kekayaan Indonesia
8. mencatat setiap kata penting karena tulisannya akan menjadi dokumen berharga suatu hari nanti.
9.Bangga dan semangat setelah menghadiri kongres pemuda II karena pemuda Indonesia telah bersatu demi mewujudkan kemerdekaan Indonesia
hilmy ridho army kusuma
27/01/2026pertanyaan literal;1 ratna
2Jakarta—atau masih bernama Batavia saat itu. Ratna, gadis berusia 17 tahun, melangkah tergesa di trotoar berbatu. Di tangannya tergenggam sebuah surat undangan rapat pemuda di gedung Katholieke Jongenlingen Bond, Lapangan Banteng.
pertanyaan interpratif;1anah air kita satu: Indonesia. Bangsa kita satu: Indonesia. Bahasa persatuan kita satu: Bahasa Indonesia!”
2Bahasa daerah adalah kekayaan kita. Tetapi untuk bersatu, kita perlu satu bahasa yang bisa menghubungkan kita semua. Bahasa Melayu—yang kita sebut Bahasa Indonesia—adalah jembatan itu.”
pertanyaan integratif;1Hujan gerimis membasahi jalan-jalan Jakarta—atau masih bernama Batavia saat itu. Ratna, gadis berusia 17 tahun, melangkah tergesa di trotoar berbatu. Di tangannya tergenggam sebuah surat undangan rapat pemuda di gedung Katholieke Jongenlingen Bond, Lapangan Banteng.
2 membakar semangat untuk merdeka
pertanyaan kritis;1ntuk bersatu, kita perlu satu bahasa yang bisa menghubungkan kita semua. Bahasa Melayu—yang kita sebut Bahasa Indonesia—adalah jembatan itu.”
2Sesampainya di gedung, ruangan sudah dipenuhi puluhan pemuda-pemudi. Ratna mengenali beberapa wajah: Muhammad Yamin dari Sumatra yang sering berpidato penuh semangat, Amir Sjarifuddin yang cerdas, dan Wage Rudolf Soepratman yang membawa biola.
pertanyaan kreatif; 1 bahagia
muhammad abid furqon
27/01/20261.Ratna
2.28 Oktober 1928
3.membuka rasa semangat
4.karena bahasa daerah itu merupakan sebuah kekayaan budaya, namun untuk bisa tetap bisa berkomunikasi dengan orang yg beda budaya maka harus menggunakan bahasa persatuan indonesia
5.pada masa itu beberapa cendikiawan indonesia melakukan revolusi di berbagai daerah
6.karena lagu indonesia raya memiliki makna yg sangat mendalam dalam persatuan indonesia
7.tepat karena seperti yang Muhammad Yamin katakan bahwa Bahasa daerah adalah kekayaan kita. Tetapi untuk bersatu, kita perlu satu bahasa yang bisa menghubungkan kita semua. Bahasa Melayu—yang kita sebut Bahasa Indonesia—adalah jembatan itu.”
8.membawa semangat terhadap kaum wanita di indonesia.
9.mulai membawa semangat kemerdekaan terhadap semua orang
HailuzinHamdi
27/01/2026A) 1.Ratna
2.Jakarta atau Batavia
B)1.Maksudnya adalah mereka telah memulai sesuatu yang besar yakni kemerdekaan indonesia
2.Agar memudahkan seluruh pemuda di indonesia berkomunikasi
C)1.Karena peristiwa sumpah pemuda yang mengobarkan semangat para pemuda di indonesia
2.Karena lagu tersebut adalah bukti kerja keras para pemuda kala itu
D)1.Sudah tepat karena untuk memudahkan berkomunikasi dan saling mempererat keindonesiaan mereka
2.Besar karena merekalah saksi asli merdekanya indonesia
E)1.Mungkin seperti pemuda yang lain di cerpen yakni menangis dan merasa bersemangat
azzamul
27/01/20261.ratna
2.jakarta/batavia, gedung khatolieke jongenlingen bond, Lapangan Banteng.
3.makna metaforis yang mendalam, yang melambangkan
dimulainya sebuah harapan, kebijaksanaan, ilmu pengetahuan, atau semangat baru untuk menerangi situasi yang sebelumnya gelap atau sulit.
4“Bahasa daerah adalah kekayaan kita. Tetapi untuk bersatu, kita perlu satu bahasa yang bisa menghubungkan kita semua. Bahasa Melayu—yang kita sebut Bahasa Indonesia—adalah jembatan itu.”
5.Sejak bergabung dengan Jong Java dua tahun lalu, ia bermimpi melihat pemuda-pemudi dari berbagai daerah bersatu. Terlalu lama mereka terpecah—Jong Java untuk Jawa, Jong Sumatranen Bond untuk Sumatra, Jong Celebes untuk Sulawesi, dan berbagai organisasi kedaerahan lainnya. Sementara itu, penjajah Belanda semakin kuat mencengkeram tanah air mereka.
6., Wage Rudolf Soepratman berdiri sambil membawa biolanya. “Saudara-saudara, ijinkan saya memainkan sebuah lagu yang saya ciptakan. Saya beri judul ‘Indonesia Raya’.”
Ruangan hening. Kemudian, alunan biola mulai terdengar. Nada-nadanya megah, menggetarkan jiwa. Ratna merasakan bulir-bulir air mata mengalir di pipinya. Belum pernah ia mendengar musik yang begitu indah sekaligus menyentuh hati.
7.sudah, karena bhs.indo adalah jembatan bagi semua bhs yg ada di indo.
8. Sebagai sekretaris muda Jong Java.
9.bahagia dan semangat yg membara.
Arfian Rafi Putra Pratama
27/01/20261. ratna adalah tokoh utama dalam cerpen diatas.
2. jakarta 28 oktober 1928.
3. karena indonesia memiliki banyak sekali bahasa daerah
4. semangat perjuangan yang akan terus menerangi indonesia.
5. sebagai penyalur energi yang mengobarkan api semangat para pemuda.
6. sumpah pemuda bertepatan saat kondisi indonesia dalam keadaan terpecah, dan memiliki tujuan untuk menyatukan kembali semangat para pemuda.
7. tepat karena kita membutuhkan bahsa perstuan agar tidak terjadi perpecahan antar suku budaya.
8. sekertaris muda jong java.
9. maka saya akan bersyukur atas segala kejadian yang telah saya alami, karena saya adalah salah satu saksi kejadian tersebut.
dafa adi p
27/01/20261. ratna
2. 28 OKTOBER 1928
3. MEMBUKA RASA SEMANGAT
4.KARENA BAHASA DAERAH ITU MERUPAKAN SEBUAH KEKAYAAN BUDAYA NAMUN UNTUK BISA TETAP BERKOMUNIKASI DENGAN ORANG YANG BERBRDA MAKA HARUS MENGGUNAKAN BAHASA PERSATUAN INDONESIA
5. PADAMASAITU PARA CENDIKIAWAN INDONESIA MELAKUKAN REVOLUSI DIBERBAGAI DAERAH
6. KARENA LAGU INDONESIA RAYA MEMILIKI MAKNA YANG SANGAT MENDALAM DALAM PERSATUAN INDONESIA
7.Bahasa daerah adalah kekayaan kita. Tetapi untuk bersatu, kita perlu satu bahasa yang bisa menghubungkan kita semua. Bahasa Melayu—yang kita sebut Bahasa Indonesia—adalah jembatan itu.”
8. membangun semangat terhadap kaum wanita di indonesia
9.mulai membawa semangat kemerdekaan terhadap semua orang
MUH.FAUZI RAIS
27/01/20261.ratna
2. jam tiga sore. di gedung Katholieke Jongenlingen Bond, Lapangan Banteng.
3.maksudnya dengan diadakanya sumpah pemuda menjadi penyemangat atau awal pondasi penerangan untuk kemerdekaaan indonesia
4.untuk bersatu, kita perlu satu bahasa yang bisa menghubungkan kita semua. Bahasa Melayu yang kita sebut Bahasa Indonesia
5.karena peristiwa sumpah pemuda pada saat itu membangkitkan semangat para pemuda indonesia untuk bersatu memerdekakan indonesia yang sedang terjajah
6.lagu indonesia raya menjadi tonggak semngat para pemuda yg semakin berkobar pada pereistiwa itu.
7.tepat,karena seperti apa yang dikatakan muhammad yamin”“Bahasa daerah adalah kekayaan kita. Tetapi untuk bersatu, kita perlu satu bahasa yang bisa menghubungkan kita semua. Bahasa Melayu—yang kita sebut Bahasa Indonesia—adalah jembatan itu.”
8.peran perempuan ternyata juga sangat penting.
9.akan selalu mengenang peristiwa tersebut dan di abadikan dengan tulisan
satria.ananda
27/01/20261.ratna.
2.jakarta/batavia,hujan gerimis membasahi jalan-jalan jakarta atau masih bernama batavia,peristiwa sumpah pemuda,28 oktober 1928.
3.hari ini kita menyalakan pelita pemuda di gedung katholieke jongenlingen bond,lapangan banteng.
4.teatapi untuk bersatu,kita pelu satu bahasa yang bisa menghubungkan kita semua.
5.saat itu indonesia sedang dalam terpecah belah dan di jajah oleh belanda.
6.kita adalah pemuda indonesia yang penuh semangat.
7.bahasa indonesia adalah jembatan itu.
8.cahayanya akan terus menerangi jalan indonesia menuju kemerdekaan.
9.28 oktober 1928,hari ini aku menjadi saksi kelahiran indinesia,satu tanah air,satu bangsa,satu bahasa,indonesia
M.ALI WAFA
27/01/20261 muhammad yamin
2 seorang pemuda dari belakang bersuara
3 mohammad yamin dari sumatra yang sering berpidato bersemangat
4karna mohammad yamin menggunakan bahasa yang sopan dan ramah
5 seorang mas yamin mencoba memeilih keadaan berjuang dan semangat
6bahasa yang kekayaan kita
8mohammad yamin adalah seorang pahlawan dari semua pahlawan darinya
9 beliau pernah manjadi seorang yang pernah dipuji bagi orang lai atau di manfaatkan
hilmi muttaqin
27/01/20261 ratna. 2 gedung katholieke jongenlingen,lapangan banteng.28 oktober 1928. 3 semangat anak muda indonesia telah bangkit. 4 karena bahasa itu akan kaya manfaatnya. 5 di saat masih dalam masa kolonial belanda
m fadlin abi agustian*
27/01/20261.ratna gadis berusia 17 tahun melangkah tergesa di trotoar berbatu .
2. peristiwa sumpah pemuda 1987 28. merayakan festival sumpah pemuda . bisa bahasa daerah apapun . indeonesia bener bener merdeka menyala abang ku . melayu adalah bhs malasyia karna beda bhs kurang tepat
3. festifal pemuda . penddiri .
reza ibrhm
27/01/20261. ratna
2. 28 oktober 1928
3. karena indonesia memiliki banyak sekali bahasa daerah
4. semangan perjuangan yang akan terus menerangi indonesia