Berita

Afianzar Belva, Bersabar Bukan Tanda Lemah, Tapi Jalan Menuju Pertolongan Allah

Tausiyah Tarawih di Mushola Asrama Tahfidz Al-Quran Bambu Kuning oleh Avianzar Belva, Siswa Kelas 7 SMP Muhammadiyah 4 Tanggul


Afianzar Belva, siswa kelas 7 SMP Muhammadiyah 4 Tanggul, menyampaikan tausiyah bertema “Menjadi Pendakwah yang Sabar” — sebuah tema yang berat namun ia bawakan dengan percaya diri dan suara yang lantang.


Sabar Bukan Sekadar Diam

Afianzar membuka materinya dengan mendefinisikan kesabaran secara mendalam — jauh dari sekadar “menahan diri” yang dipahami kebanyakan orang.

Menurutnya, sabar adalah menahan diri untuk tetap menaati Allah, tidak mendustakan-Nya, dan tidak membenci takdir-takdir yang telah ditetapkan-Nya. Dalam konteks dakwah, kesabaran menjadi fondasi utama. Seorang pendakwah yang giat menyebarkan kebaikan, meski disakiti dan dianiaya, akan tetap teguh berdiri — bukan karena ia kuat, tetapi karena ia bersabar bersama Allah.

Penganiayaan terhadap pendakwah, kata Avianzar, adalah hal yang lumrah terjadi sepanjang sejarah. Kecuali bagi mereka yang telah mendapat petunjuk dari Allah SWT.

Teladan Para Rasul: Didustakan, Namun Tetap Berdiri

Afianzar kemudian membawa jamaah menelusuri sejarah panjang perjuangan para rasul. Ia mengutip firman Allah dalam QS. Al-An’am ayat 34 yang menegaskan bahwa rasul-rasul sebelum Nabi Muhammad SAW pun telah didustakan — namun mereka tetap sabar menghadapi penganiayaan, hingga akhirnya pertolongan Allah datang menjemput mereka.

Puncak dari kisah kesabaran itu adalah Rasulullah SAW sendiri. Beliau pernah dipukul oleh kaumnya hingga darah bercucuran dari kepalanya. Namun alih-alih membalas atau menyerah, beliau justru mendoakan agar dosa-dosa kaumnya diampuni oleh Allah SWT. Inilah teladan sabar yang sesungguhnya.

Semakin Keras Cobaan, Semakin Dekat Pertolongan

Salah satu pesan paling kuat dari tausiyah malam itu datang ketika Afianzar menyampaikan bahwa pertolongan Allah berbanding lurus dengan beratnya ujian yang dihadapi seorang pendakwah.

“Semakin keras penganiayaan terhadap seorang pendakwah, semakin dekat pula pertolongan Allah,” tegasnya.

Dan pertolongan itu, lanjut Avianzar, tidak selalu datang saat pendakwah masih hidup. Bisa jadi Allah membuka hati manusia untuk menerima dakwahnya justru setelah sang dai telah wafat. Itulah bentuk pertolongan Allah yang melampaui batas waktu.

Tiga Pilar Kesabaran yang Wajib Dikuasai

Afianzar menutup inti materinya dengan memaparkan tiga jenis kesabaran yang harus dimiliki setiap pendakwah — dan sejatinya, setiap Muslim:

Pertama, sabar dalam menaati Allah. Kedua, sabar dalam menjauhi segala larangan dan hal-hal yang diharamkan-Nya. Ketiga, sabar dalam menjalani takdir-takdir Allah SWT, baik yang datang langsung maupun melalui gangguan sesama manusia.

Tiga pilar ini, bila kokoh tertanam dalam diri seorang dai, akan menjadikannya pendakwah yang tidak mudah goyah oleh badai sekalipun.

Ramadhan: Sekolah Kesabaran Terbaik

Mengakhiri tausiyahnya, Afianzar mengingatkan seluruh jamaah bahwa bulan Ramadhan adalah momentum paling tepat untuk melatih dan mempertebal kesabaran. Bukan hanya sabar menahan lapar dan dahaga, tetapi sabar dalam ketaatan, sabar menjauhi larangan, dan sabar menerima segala ketetapan Allah dengan lapang dada — sembari terus mengharap pahala di sisi-Nya.

Sebuah penutup yang sederhana namun meninggalkan kesan mendalam dari seorang pemateri muda yang telah membuktikan: usia bukan halangan untuk menyampaikan kebenaran.


Ditulis berdasarkan tausiyah tarawih di Mushola Asrama Tahfidz Al-Quran Bambu Kuning, disampaikan oleh Avianzar Belva, siswa kelas 7 SMP Muhammadiyah 4 Tanggul.


Tim Jurnalistik MBS

Leave a Reply