Berita

Istiqomah Itu Berat, Tapi Inilah Cara Allah Memuliakan Hamba yang Konsisten

Istiqomah bukan soal seberapa besar amalanmu — tapi seberapa konsisten kamu menjalaninya setiap hari

 

Tausiyah Jelang Berbuka Puasa oleh Ustadz Husni untuk Santri MBS Tanggul


Di sore hari menjelang berbuka puasa, Ustadz Husni membuka tausiyahnya dengan sebuah pengakuan yang jujur: betapa beratnya istiqomah. Meskipun kita tahu bahwa akhirat adalah kehidupan abadi dan masa depan yang hakiki, kita kerap tertipu oleh dunia dan kecanduan kesenangan duniawinya.

Itulah mengapa Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk selalu memohon dalam doa: “Ya muqallibal qulubi tsabbit qalbi ala dinik” — Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu (HR. at-Tirmidzi).


Amalan Sedikit tapi Rutin, Lebih Dicintai Allah

Rasulullah SAW bersabda dalam hadits Muttafaqun ‘Alaih: “Amalan yang paling dicintai di sisi Allah ta’ala adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus walau jumlahnya sedikit.”

Inilah teladan nyata dari Rasulullah SAW sendiri. Ketika Alqomah bertanya kepada Aisyah RA tentang apakah Rasulullah mengkhususkan hari-hari tertentu untuk beramal, Aisyah menjawab dengan tegas: “Beliau tidak mengkhususkan waktu tertentu. Amalan beliau adalah amalan yang kontinu.”

Artinya, Rasulullah tidak beramal hanya di bulan Ramadhan saja, tidak hanya di hari Jumat saja, tidak hanya ketika mood-nya bagus saja. Beliau konsisten — setiap hari, dalam kondisi apapun.


Kisah Tukang Roti dan Imam Ahmad bin Hambal

Ustadz Husni kemudian menyampaikan sebuah kisah yang sangat menggetarkan tentang kekuatan istiqomah dan istigfar.

Suatu ketika Imam Ahmad bin Hambal — ulama besar penghafal satu juta hadits — melakukan perjalanan panjang yang sangat melelahkan ke Mesir. Beliau singgah di sebuah masjid untuk beristirahat. Namun marbot masjid yang tidak mengenali beliau mengusirnya. Imam Ahmad pun duduk di pelataran, tapi kembali diusir. Tanpa protes, beliau melanjutkan perjalanan.

Di tengah jalan, seorang tukang roti memanggil dan mempersilakan beliau beristirahat di rumahnya. Imam Ahmad pun menerima tawaran itu. Saat beristirahat, beliau memperhatikan tukang roti itu bekerja — membuat adonan sambil terus beristigfar, menguleni roti sambil terus beristigfar. Tanpa henti.

Imam Ahmad yang tahu betul keutamaan istigfar pun bertanya: “Wahai sayyid, aku lihat setiap kali membuat adonan engkau beristigfar — apa manfaatnya bagimu?”

Tukang roti itu menjawab dengan tenang: “Wallahi, setiap kali aku memohon kepada Allah, tidak pernah aku memohon kecuali dikabulkan. Hanya satu yang sampai sekarang belum terkabulkan — yaitu keinginanku untuk bertemu dengan Imam Ahmad bin Hambal.”

Imam Ahmad pun spontan bertakbir: “Allahu Akbar! Karena istigfarmu itulah aku datang kemari. Karena istigfarmu itulah aku diusir dari masjid — hanya untuk diantarkan ke tempatmu!”


Penutup: Jangan Putuskan Amalanmu

Ustadz Husni menutup tausiyahnya dengan pesan yang tegas namun penuh kasih: jangan putuskan amalanmu. Kisah tukang roti itu bukan sekadar cerita indah — ia adalah bukti nyata bahwa istiqomah dalam amalan kecil sekalipun, seperti istigfar, bisa mengundang kemuliaan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Maka dianjurkan untuk merutinkan amalan yang biasa kita lakukan dan dilarang memutuskan suatu amalan meskipun hukumnya sunnah. Karena Allah mencintai hamba yang konsisten — bukan yang banyak di awal lalu menghilang di tengah jalan.


Ditulis berdasarkan tausiyah jelang berbuka puasa yang disampaikan oleh Ustadz Husni untuk Santri MBS Tanggul.

Leave a Reply