Berita

Ketika Hujan Pun Berdzikir

Rintik hujan jatuh seperti tasbih langit yang berderai, menyebut nama-Nya tanpa henti. 🌧️ Di beranda pondok, para santriwati merapatkan mukena dan hati, menunduk khusyuk di hadapan Al-Qur’an—ayat-ayatnya bercahaya, menghangatkan jiwa yang basah oleh rindu. Setiap tetes hujan adalah rahmat, setiap huruf yang dilafalkan adalah doa, dan di antara keduanya, tumbuh cinta yang diam-diam mengakar kuat kepada Rabb semesta alam.

Malam pun turun perlahan, membawa serta bintang-bintang yang ikut bertasbih dalam senyap. Di sudut musholla yang temaram, suara tilawah mengalir bagai sungai yang tahu ke mana ia harus mengalir—menuju lautan yang tak bertepi. Angin berbisik lembut di antara helai mukena putih, seolah menyampaikan pesan dari langit: bahwa lisan yang basah dengan asma-Nya, tidak akan pernah benar-benar sendirian.

Dan ketika adzan subuh membelah fajar yang masih mengantuk, para santriwati itu bangkit—tubuh lelah, namun jiwa seolah diterangi cahaya . Sajadah mereka masih menyimpan hangat sujud semalam, dan Al-Qur’an di tangan mereka bukan lagi sekadar kitab—ia telah menjadi napas, menjadi detak, menjadi rumah yang paling sunyi sekaligus paling ramai. Hujan semalam telah usai, tapi rahmat-Nya? Tidak pernah benar-benar berhenti.

Leave a Reply