Lapar itu ujian, tapi di baliknya ada empat falsafah agung yang mengangkat derajatmu

Tausiyah Jelang Berbuka Puasa oleh Ustadzah Kunti untuk Santriwati Asrama Tahfidz Bambu Kuning Tanggul
Menjelang berbuka, Ustadzah Kunti mengajak para santriwati Asrama Tahfidz Bambu Kuning untuk sejenak merenung — bukan tentang menu buka puasa, tapi tentang makna terdalam dari ibadah yang sedang kita jalani hari ini.
Puasa adalah Panggilan Iman
Allah SWT menyapa kita dalam perintah puasa dengan kalimat yang sangat istimewa: “Ya ayyuhalladzina amanu” — Wahai orang-orang yang beriman. Bukan sekadar panggilan biasa. Puasa adalah urusan kepatuhan kepada Sang Pencipta, bukan sekadar urusan menahan lapar.
Banyak orang mengaku Islam, tapi belum tentu ringan menjalankannya. Mengapa? Karena puasa membutuhkan energi iman. Semakin kuat iman seseorang, semakin ringan ia menjalani puasa dengan sepenuh hati.
4 Falsafah Puasa yang Harus Kamu Pahami
1. Riyadhah — Latihan Pengendalian Diri
Puasa adalah madrasah — tempat latihan jiwa. Kita dilatih bukan hanya menahan haus dan lapar, tapi menahan hawa nafsu: tidak mudah marah, tidak ghibah, tidak julid, dan tidak menipu. Kalau selama puasa kita bisa jujur, seharusnya setelah Ramadhan kita pun menjadi pribadi yang lebih jujur dalam setiap langkah kehidupan.
2. Tazkiyatun Nafs — Penyucian Diri
Puasa menyucikan kita dalam tiga dimensi sekaligus. Secara fisik, adalah detoks alami yang mengeluarkan racun, menurunkan kolesterol, dan menyehatkan tubuh. Secara rohani, membersihkan penyakit hati seperti iri dan dengki — sebagaimana firman Allah dalam QS. Asy-Syams: “Qad aflaha man zakkaha” — sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya. Secara pikiran, puasa melatih kita untuk selalu husnuzan kepada sesama manusia dan kepada Allah.
3. Kesadaran akan Kelemahan Diri
Lihatlah diri kita beberapa menit sebelum bedug Maghrib — lemas, lunglai, dan tidak berdaya. Inilah falsafah puasa yang paling mengena: menyadarkan bahwa kita adalah makhluk yang sangat lemah. Tanpa nikmat makan dan minum dari Allah, kita bukan siapa-siapa. Kesadaran ini seharusnya membuang jauh-jauh rasa sombong dari dalam diri kita.
4. Keikhlasan dan Pengorbanan
Hanya Allah yang tahu apakah kita benar-benar berpuasa atau tidak. Kita bisa saja minum sembunyi-sembunyi, tapi kita tidak melakukannya. Itulah nilai keikhlasan yang sesungguhnya — mengorbankan kesenangan fisik semata-mata demi mengharap ridha-Nya, tanpa perlu pengakuan dari siapapun.
Penutup: Keluar dari Ramadhan sebagai Pribadi Baru
Ustadzah Kunti menutup tausiyahnya dengan harapan yang tulus: semoga setelah digembleng di bulan Ramadhan ini, kita keluar menjadi pribadi yang baru — sehat jasmaninya, bersih rohaninya, dan mulia akhlaknya. Tidak ada lagi kecurangan, tidak ada lagi kebencian.
Tujuan akhir dari seluruh ibadah puasa ini hanya satu, sebagaimana Allah tegaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 183: “La’allakum tattaqun” — agar kita menjadi orang yang bertakwa.
————————————————————————————————————————————-
Ditulis berdasarkan tausiyah jelang berbuka yang disampaikan oleh Ustadzah Kunti untuk Santriwati Asrama Tahfidz Bambu Kuning Tanggul.
Editor: Tim Jurnalistik MBS Tanggul



