Berita

Ramadhan, Momentum Pembersihan Diri

Ramadhan, Momentum Pembersihan Diri

Dalam sesi tausiyah menjelang berbuka puasa yang penuh makna, KH. Ali Maksum memberikan ulasan mendalam mengenai korelasi antara iman, ibadah puasa, dan gelar takwa yang menjadi dambaan setiap Muslim.

Iman : “Mesin Penggerak” Ibadah

KH. Ali Maksum membuka tausiyahnya dengan tekanan bahwa iman adalah landasan dari segala amal. Menurut beliau, kuat atau lemahnya respon seseorang terhadap perintah Allah sangat bergantung pada kondisi iman di dalam dadanya.

​”Jika iman kuat, panggilan ibadah akan terasa sangat bermakna. Sebaliknya, jika iman lemah, panggilan sehebat apa pun akan terasa hambar dan diabaikan,” urai beliau. Fenomena ini menjelaskan mengapa di bulan Ramadhan, kita masih menjumpai orang-orang yang tanpa beban makan dan minum di tempat umum, seolah kehilangan sensitivitas terhadap kesucian bulan ini.

Puasa sebagai Proses Cleansing (Pembersihan Diri)

​Sesuai dengan tema utama, KH. Ali Maksum menjelaskan bahwa puasa sejati adalah metode “pembersihan” yang dirancang langsung oleh Allah SWT. Proses pembersihan ini mencakup dua aspek utama:

    • Pembersihan Sifat: Membuang rasa malas dan memutus rantai kebiasaan buruk yang selama ini melekat.
    • Pembersihan Lisan: Melatih kejujuran dan menjaga lidah dari debu-debu dusta.

​”Ini adalah cara Allah memuliakan hamba-Nya tanpa memandang latar belakang. Tidak peduli Anda kaya atau miskin, rakyat atau raja, dari suku Indonesia, Arab, Cina, hingga Amerika—semuanya setara di hadapan kewajiban ini,” tegasnya.

 

​Menjadi Pemenang Sejati (Muttaqin)

Mengutip ayat “La’allakum tattaqun” , beliau menjelaskan bahwa tujuan akhir puasa adalah mencetak pribadi yang bertakwa. Dalam pandangan beliau, orang yang bertakwa adalah pemenang sejati .

Mengacu pada ayat “Inna lil muttaqina mafaza” , kemenangan ini mencakup tiga dimensi:

      1. Menang : Berhasil menaklukkan hawa nafsu sendiri.
      2. Sukses : Meraih keberkahan di dunia maupun di akhirat.
      3. Beruntung : Mendapatkan tempat kemuliaan yang khusus di sisi Allah.

​Takwa: Standar Kemuliaan Tanpa Kasta

​Menutup tausiyahnya, KH. Ali Maksum mengingatkan jamaah agar tidak terjebak pada atribut duniawi. Beliau memberikan perumpamaan yang menarik mengenai bahasa untuk menekankan bahwa kemuliaan itu murni karena kualitas hati.

​”Kemuliaan bukan karena bahasa. Orang yang mahir berbahasa Arab belum tentu mulia—ingatlah bahwa Abu Jahal pun sangat fasih berbahasa Arab. Kemuliaan sejati hanyalah ketakwaan,” tutupnya sambil menyitir Surat Al-Hujurat.

​Sebagai pesan penutup, beliau mengutip pesan moral yang senada dengan lirik lagu Rhoma Irama: jadilah petani yang takwa, pedagang yang takwa, hingga pejabat yang takwa. Karena sebaik-baiknya bekal perjalanan hidup hanyalah ketakwaan kepada Allah SWT.

———————– —————————————- ————————————————————————————————

Tim Jurnalistik MBS

Leave a Reply